Tampilkan postingan dengan label Campak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Campak. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 April 2019

Campak Mewabah di Madagaskar, Renggut Ribuan Korban - Radar Cirebon

AMBALAVAO – Wabah campak telah menewaskan 1.200 orang di Madagaskar, yang sebagian besar melanda anak-anak dan balita. Madagaskar menghadapi wabah campak terbesar dengan kasus yang melonjak melampaui 115 ribu.

Kurangnya sumber daya di Madagaskar menjadi tantangan besar bagi masyarakat, khususnya orang tua yang ingin melindungi anak-anaknya. Hingga saat ini, tercatat hanya 58 persen orang di pulau utama Masagaskar telah divaksinasi campak.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, wabah campak telah menewaskan sebagian besar anak-anak di bawah usia 15 tahun sejak September lalu.

“Sayangnya epidemi terus berkembang, meski pada kecepatan yang lebih lambat dari sebulan lalu,” ujar Ahli Epidemiologi WHO, Dossou Vincent Sodjinou, Senin (15/4).

Kementerian Kesehatan Madagaskar mencatat, pada pertengahan Maret terdapat 117.075 kasus campak yang dilaporkan. Beberapa kasus merupakan resistensi terhadap vaksinasi, sedangkan beberapa lainnya karena pengaruh agama atau berada di daerah yang terisolasi.

Epidemi tersebut diperparah dengan adanya kekurangan gizi yang dialami oleh hampir 50 persen anak-anak di Madagaskar. “Malnutrisi adalah penyebab campak,” ujarnya.

Kementerian Kesehatan Madagaskar telah mengirim obat-obatan gratis ke daerah-daerah yang terkena wabah campak. Campak merupakan penyakit yang sangat menular dan menyebar melalui batuk, bersin atau melakukan kontak langsung. Gejala-gejala campak masih dapat dicegah melalui pemberian obat agar tidak terjadi komplikasi.

“Vitamin A diberikan kepada anak-anak untuk meningkatkan kekebalan mereka. Kami berusaha mengurusi demam. Jika ada batuk, kami memberikan antibiotik,” ujar perwakilan WHO, Dr Boniface Maronko.

Maronko mengingatkan, agar kepala pusat kesehatan di wilayah Ambalavao memberikan obat-obatan secara gratis. Maronko khawatir, obat-obatan yang dikirim tersebut tidak dapat mencukupi.

Salah satu warga Madagaskar, Lalatiana Ravonjisoa memiliki lima anak yang terkena campak. Penjual sayur di distrik miskin ini sedang berduka untuk bayinya yang berusia lima bulan.

“Saya punya lima anak, mereka semua menderita campak. Untuk yang terakhir, saya tidak pergi ke dokter karena saya tidak punya uang. Saya memberi bayi saya obat sisa dari kakaknya untuk menurunkan demam,” ujar Ravonjiosa.

Selama beberapa hari Ravonjiosa tidak khawatir, karena kondisi bayinya membaik. Tapi suatu pagi, dia menyadari bayinya mengalami kesulitan bernapas dan kakinya telah dingin. “Saya tidak membayangkan dia akan meninggal dunia,” ujarnya.

Akhir bulan lalu, WHO memulai kampanye vaksinasi campak massal ketiga di Madagaskar dengan target 7,2 juta anak usia enam bulan hingga sembilan bulan. (der/ap/fin)


Read More

Selasa, 16 April 2019

PBB: Kasus Campak di Seluruh Dunia Meningkat 3 Kali Lipat Tahun 2019 - detikNews








New York

-

Jumlah kasus campak tiga bulan pertama tahun 2019 di seluruh dunia dilaporkan meningkat tiga kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu, berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Badan milik PBB itu mengatakan bahwa data sementara menunjukkan "tren yang jelas", dengan seluruh wilayah di dunia mengalami wabah tersebut.

Afrika mengalami peningkatan paling signifikan - hingga 700%.

WHO mengungkapkan bahwa angka sebenarnya bisa jadi lebih besar, karena secara global, hanya satu dari 10 kasus yang dilaporkan.

Campak merupakan penyakit virus yang sangat menular yang terkadang dapat mengakibatkan komplikasi kesehatan yang serius, termasuk infeksi paru-paru dan otak.

Ukraina, Madagaskar dan India adalah negara yang terdampak paling buruk, dengan puluhan ribu kasus tercatat untuk setiap satu juta penduduknya.

Sejak September, setidaknya 800 orang meninggal dunia akibat campak di Madagaskar.

Wabah campak juga menyerbu Brazil, Pakistan dan Yaman, "menyebabkan banyak kematian - sebagian besar anak-anak".

Lonjakan jumlah kasus juga tercatat di sejumlah negara lainnya termasuk Amerika Serikat dan Thailand yang notabene memiliki cakupan vaksinasi yang tinggi.

PBB mengatakan bahwa penyakit tersebut "sangat bisa dicegah" dengan vaksinasi yang tepat, namun cakupan global dari tahap imunisasi pertama justru "terhenti" di angka 85%, "masih kurang dari 95% yang diperlukan untuk mencegah wabah".

Dalam sebuah tulisan opini untuk CNN, pemimpin WHO Henrietta Fore dan Tedros Adhanom Ghebreyesus menyatakan bahwa dunia tengah "berada di tengah krisis campak" dan bahwa "persebaran informasi yang membingungkan dan kontradiktif" tentang vaksin menjadi sebagian hal yang patut dipersalahkan.

Mengapa tiba-tiba terjadi 'krisis campak dunia'? Oleh James Gallagher, koresponden kesehatan dan sains, BBC News Campak adalah salah satu virus paling menular yang ada, meski demikian, tak ada yang berubah dari campak. Ia tidak bermutasi menjadi virus yang lebih menular atau berbahaya. Jawabannya justru ada pada manusia itu sendiri.

Ada dua cerita di sini - yang satu tentang kemiskinan, yang satu tentang misinformasi. Di negara-negara miskin, lebih sedikit orang menjalani vaksinasi, sehingga sebagian besar populasinya rentan terhadap virus itu.

Hal ini menciptakan situasi bagi wabah terjadi - misalnya seperti mereka yang hidup di Republik Demokratik Kongo, Kyrgyztan, dan Madagaskar.

Akan tetapi negara-negara yang lebih sejahtera dengan tingkat vaksinasi yang tinggi juga mengalami peningkatan kasus campak. Hal ini karena sekelompok orang lebih memilih untuk tidak memvaksinasi anak-anak mereka karena terpengaruh persebaran pesan anti-vaksin yang tidak benar di media sosial.

Perlu dicatat bahwa angka jumlah kasus campak tersebut hanya sementara, menurut WHO, bisa saja angka sebenarnya jauh lebih tinggi. Campak sendiri sangat merugikan. Bahkan, penyakit itu membunuh sekitar 100 ribu orang, kebanyakan anak-anak, setiap tahunnya.

Kedua pimpinan WHO itu menyatakan bahwa hal tersebut "bisa dimengerti, di tengah situasi seperti sekarang ini, bagaimana orang tua yang khawatir akan kesehatan anak-anaknya bisa merasa tersesat" akan tetapi "pada akhirnya, tidak ada yang perlu diperdebatkan jika menyangkut manfaat yang besar dari vaksin".

Mereka menambahkan: "Lebih dari 20 juta jiwa diselamatkan lewat vaksin campak sejak tahun 2000."

Sebagai respons terhadap wabah campak, sejumlah negara membuat peraturan untuk mewajibkan imunisasi.

Bulan lalu, Italia melarang anak-anak di bawah usia enam tahun bersekolah kecuali mereka telah divaksin cacar air, campak dan penyakit lainnya.

Situasi darurat kesehatan masyarakat juga diberlakukan di kawasan New York, meminta seluruh penduduk untuk menjalani vaksinasi atau dikenai sanksi.







(nvc/nvc)





















Read More

PBB: Kasus Campak di Seluruh Dunia Meningkat 3 Kali Lipat pada 2019 - iNews

Nathania Riris Michico · Selasa, 16 April 2019 - 15:18 WIB

PBB: Kasus Campak di Seluruh Dunia Meningkat 3 Kali Lipat pada 2019

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan angka terbaru kasus campak menggambarkan "kondisi yang mengkhawatirkan". (FOTO: GETTY IMAGES)

NEW YORK, iNews.id - Jumlah kasus campak tiga bulan pertama 2019 di seluruh dunia dilaporkan meningkat tiga kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Informasi itu berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Badan milik PBB itu menyatakan, data sementara menunjukkan tren nyata, dengan seluruh wilayah di dunia mengalami wabah tersebut. Afrika mengalami peningkatan paling signifikan -hingga 700 persen.

WHO mengungkapkan bahwa angka sebenarnya bisa jadi lebih besar, karena secara global, hanya satu dari 10 kasus yang dilaporkan.

Campak merupakan penyakit virus yang sangat menular yang terkadang dapat mengakibatkan komplikasi kesehatan yang serius, termasuk infeksi paru-paru dan otak.

Ukraina, Madagaskar, dan India merupakan negara yang terdampak paling buruk, dengan puluhan ribu kasus tercatat untuk setiap satu juta penduduknya.

Sejak September, setidaknya 800 orang meninggal dunia akibat campak di Madagaskar.

Wabah campak juga menyerang Brazil, Pakistan dan Yaman.

"Menyebabkan banyak kematian -sebagian besar anak-anak," lapor PBB, seperti dikutip BBC, Selasa (16/4/2019).

Campak merupakan salah satu virus paling menular yang ada. Kendati demikian, tak ada yang berubah dari campak.

Dia tidak bermutasi menjadi virus yang lebih menular atau berbahaya. Jawabannya justru ada pada manusia itu sendiri.

Ada dua cerita di sini - yang satu tentang kemiskinan, yang satu tentang misinformasi. Di negara-negara miskin, lebih sedikit orang menjalani vaksinasi, sehingga sebagian besar populasinya rentan terhadap virus itu.

Hal ini menciptakan situasi bagi wabah terjadi, misalnya seperti mereka yang hidup di Republik Demokratik Kongo, Kyrgyztan, dan Madagaskar.

Akan tetapi, negara-negara yang lebih sejahtera dengan tingkat vaksinasi yang tinggi juga mengalami peningkatan kasus campak. Hal ini karena sekelompok orang lebih memilih untuk tidak memvaksinasi anak-anak mereka karena terpengaruh persebaran pesan anti-vaksin yang tidak benar di media sosial.

Perlu dicatat bahwa angka jumlah kasus campak tersebut hanya sementara. Menurut WHO, bisa saja angka sebenarnya jauh lebih tinggi.

Campak sendiri sangat merugikan. Bahkan, penyakit itu membunuh sekitar 100 ribu orang, kebanyakan anak-anak, setiap tahunnya.

"Hal ini bisa dimengerti, di tengah situasi seperti sekarang ini, bagaimana orangtua khawatir akan kesehatan anak-anaknya bisa merasa tersesat, tetapi pada akhirnya, tidak ada yang perlu diperdebatkan jika menyangkut manfaat yang besar dari vaksin," sebut pemimpin WHO.

"Lebih dari 20 juta jiwa diselamatkan lewat vaksin campak sejak pada 2000."

Sebagai respons terhadap wabah campak, sejumlah negara membuat peraturan untuk mewajibkan imunisasi.

Bulan lalu, Italia melarang anak-anak di bawah usia enam tahun bersekolah kecuali mereka sudah divaksin cacar air, campak, dan penyakit lainnya.

Situasi darurat kesehatan masyarakat juga diberlakukan di kawasan New York, meminta seluruh penduduk untuk menjalani vaksinasi atau dikenai sanksi.

Editor : Nathania Riris Michico


Read More

Senin, 15 April 2019

WHO : Kasus Campak Melonjak Tiga Kali Lipat di Seluruh Dunia - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA -- Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) mengungkapkan kasus campak di seluruh dunia naik tiga kali lipat dalam kuartal I/2019.

Seperti dilansir dari Reuters, Selasa (16/4/2019), WHO menyebutkan ada 112.163 kasus dalam periode Januari-Maret 2019.

 

Adapun BBC melaporkan bahwa WHO menyatakan bahwa data yang mereka kumpulkan menunjukkan adanya tren kenaikan yang jelas. Kondisi ini pun terjadi di seluruh benua, di mana Afrika menjadi daerah dengan pertumbuhan tertinggi, yakni hingga 700% jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

 

Namun, angka itu bisa jadi lebih besar lagi di lapangan karena hanya 1 dari 10 kasus yang biasanya dilaporkan.

 

Ukraina, Madagaskar, dan India juga tercatat sebagai negara dengan jumlah kasus campak yang besar, di mana angkanya mencapai puluhan ribu kasus per 1 juta orang. Kenaikan yang tinggi terjadi pula di Brasil, Pakistan, serta Yaman, dan banyak menimpa anak-anak.

 

Naiknya jumlah kasus campak terjadi pula di negara-negara dengan cakupan vaksinasi yang luas, seperti AS dan Thailand. 

 

Campak disebabkan oleh virus dan terkadang bisa menyebabkan masalah kesehatan serius, termasuk infeksi paru-paru dan otak. PBB menyatakan bahwa campak sebenarnya penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin yang tepat.

 

Sayangnya, cakupan imunisasi di seluruh dunia terhenti di angka 85%. Padahal, untuk mencegah penyebaran kasus campak, tingkat imunisasi mesti menyentuh angka 95%.

 

Dalam sebuah kolom di CNN, pejabat tinggi WHO Henrietta Fore dan Tedros Adhanom Ghebreyesus mengungkapkan bahwa informasi yang membingungkan dan kontradiktif terhadap vaksin turut menjadi penyebab. 

 

"Adalah suatu hal yang dapat dipahami, dalam kondisi sekarang, bagaimana orang tua bisa kebingungan," ujar mereka.

 

Tetapi, lanjut Fore dan Ghebreyesus, pada akhirnya tidak ada perdebatan mengenai pentingnya vaksin. Keduanya menyebutkan lebih dari 20 juta nyawa berhasil selamat melalui vaksinasi campak sejak 2000.

 

Sejumlah negara pun telah mewajibkan imunisasi. Italia misalnya, melarang anak di bawah 6 tahun untuk bersekolah di sekolah umum jika mereka tidak mendapatkan vaksin untuk cacar, campak, dan penyakit lainnya.

 

Pemerintah New York, AS juga mewajibkan warganya untuk divaksin atau dikenakan denda.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

who, virus campak


Read More